[caption id="attachment_1162" align="alignleft" width="225"] Dari Tapi ke Simp.Kabun Alah[/caption]
Beberapa masa yang dahulu kita telah mempercakapkan perihal Jorong Nan Tujuah dan jauh sebelumnya telah pula kita bahas perihal beberapa jorong yang terdapat di kampung kita. Sekarang, kami masih berkeinginan untuk tidak berannjak dari Patah Ilia. Kami hendak mencoba membahas perihal Jorong Balai Panjang.
Beragam cerita kami dengar perihal asal muasal nama jorong ini. Begitula ia apabila sejarah tak dituliskan melainkan diingat saja. Bahkan tak jarang pertikaian sering terjadi apabila mempercakapkan perihal tarikh sejarah ini. Namun kami yakin, tidaklah demikian dengan engku dan encik sekalian.
Ada baiknya sebelum kita membahas perihal asal muasal nama jorong ini, hendaknya kita cari tahu dahulu apa itu arti “balai”. Kami sendiri masih merasa kesusahan dalam mencari arti dan maknanya. Pernah suatu ketika kami mendengar orang berkata “Pergi ke balai kitalah engku, saya dengar ada pertunjukan menarik di sana. Biasalah orang menjual obat..”
[caption id="attachment_1164" align="alignright" width="224"] Gunjo, pendakian Katapiang[/caption]
Setelah kami ikuti, rupanya kami dibawa oleh engku tersebut ke sebuah pekan “O.. jadi menurut orang kampung sini, “balai” itu ialah pakan (pekan)”.
Kemudian pada suatu ketika kamipun pernah ditawari “Hei.. engku, ke balai kitalah. Si Sutan Mantiko sedang dibasuh orang. Eloklah kita pergi menonton..”
Kamipun heran dan kasihan “Di tengah pekan Sutan Mantiko dibasuh oleh orang..” seru kami dalam hati.
Rupanya tidak engku dan encik sekalian, bukan ke pekan tujuan kami melainkan ke pos pemuda tempat orang banyak duduk-duduk. Mereka ada yang maota main domino, duduk-duduk sambil merokok, dan lain-lain hal.
Pernah pula kami bertanya kepada seseorang “Engku Dt. Rajo Alam sedang dimanakah rangkayo, saya ada keperluan agak sedikit dengan beliau..”
[caption id="attachment_1163" align="alignleft" width="222"] Dari Koto Tangah ke Koto Kaciak[/caption]
“Ke balai engku datuk itu sutan. Kata beliau ada beberapa hal yang hendak dirundingkan oleh para datuk..” jawab isteri beliau Rangkayo Siti Rabi’ah.
Itulah engku, ada tiga tempat yang merujuk kepada kata “balai” ini, yaitu pakan atau pasar, tempat orang duduk-duduk bersantai, dan yang terakhir ialah Balai Adat tempat para penghulu berunding. Lalu kata balai pada nama Jorong Balai Panjang merujuk kemanakah engku dan encik sekalian?
Eloklah kiranya kita cermati curaian beberapa orang di kampung kita mengenai perkara ini. Curaian pertama berupa cerita orang-orang sambil duduk-duduk petang hari di lapau. Kata engku yang punya cerita bahwa “dahulu ketika penduduk di nagari kita mulai banyak, maka dibuatkanlah oleh orang bangku-bangku panjang dari batuang untuk tempat orang lelaki duduk-duduk. Maka kemudian dinamailah tempat itu dengan nama Balai Panjang..”
[caption id="attachment_1161" align="alignright" width="300"] Luak Anyia[/caption]
Adapun curaian kedua ialah “Bahwa pada masa dahulu balai negeri kita ada di sana. Bentuk balai negeri kita itu panjang dan berlainan dengan balai nagari yang ada di nagari lain. Sehingga orang-orang menamanakan tempat balai itu didirikan dengan nama Balai Panjang..”
Bagaimana menurut engku dan encik sekalian? Berat kemanakah pendapat engku dan encik sekalian?
Kalau dicari makna sebenar dari balai (apakah balai adat ataupun bangku-bangku) tersebut tentulah takkan bersua. Sebab kita tak pernah tahu berasal dari zaman berapakah cerita ini.
Kemudian apabila kita bercakap perihal Jorong Balai Panjang ini maka akan tersua oleh kita beberapa kampung seperti Kabun Alah, Koto Tangah, Kuruak Gadang, Luak Anyiak, Gunjo, Katapiang, dan Balai Panjang. Mungkin engku dan encik dapat menolong kami dalam hal mencari nama-nama kampung di Jorong Balai Panjang ini?
Jorong Balai Panjang berbatasan dengan Jorong Rumah Tinggi di sebelah utara, Jorong Nan Tujuah sebelah ke mudik (barat), Jorong Koto Kaciak di sebelah hilir (timur), sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Nagari Magek.
Begitulah engku dan encik sekalian, kalau silap mohonlah kami ditolong.
Beberapa masa yang dahulu kita telah mempercakapkan perihal Jorong Nan Tujuah dan jauh sebelumnya telah pula kita bahas perihal beberapa jorong yang terdapat di kampung kita. Sekarang, kami masih berkeinginan untuk tidak berannjak dari Patah Ilia. Kami hendak mencoba membahas perihal Jorong Balai Panjang.
Beragam cerita kami dengar perihal asal muasal nama jorong ini. Begitula ia apabila sejarah tak dituliskan melainkan diingat saja. Bahkan tak jarang pertikaian sering terjadi apabila mempercakapkan perihal tarikh sejarah ini. Namun kami yakin, tidaklah demikian dengan engku dan encik sekalian.
Ada baiknya sebelum kita membahas perihal asal muasal nama jorong ini, hendaknya kita cari tahu dahulu apa itu arti “balai”. Kami sendiri masih merasa kesusahan dalam mencari arti dan maknanya. Pernah suatu ketika kami mendengar orang berkata “Pergi ke balai kitalah engku, saya dengar ada pertunjukan menarik di sana. Biasalah orang menjual obat..”
[caption id="attachment_1164" align="alignright" width="224"] Gunjo, pendakian Katapiang[/caption]
Setelah kami ikuti, rupanya kami dibawa oleh engku tersebut ke sebuah pekan “O.. jadi menurut orang kampung sini, “balai” itu ialah pakan (pekan)”.
Kemudian pada suatu ketika kamipun pernah ditawari “Hei.. engku, ke balai kitalah. Si Sutan Mantiko sedang dibasuh orang. Eloklah kita pergi menonton..”
Kamipun heran dan kasihan “Di tengah pekan Sutan Mantiko dibasuh oleh orang..” seru kami dalam hati.
Rupanya tidak engku dan encik sekalian, bukan ke pekan tujuan kami melainkan ke pos pemuda tempat orang banyak duduk-duduk. Mereka ada yang maota main domino, duduk-duduk sambil merokok, dan lain-lain hal.
Pernah pula kami bertanya kepada seseorang “Engku Dt. Rajo Alam sedang dimanakah rangkayo, saya ada keperluan agak sedikit dengan beliau..”
[caption id="attachment_1163" align="alignleft" width="222"] Dari Koto Tangah ke Koto Kaciak[/caption]
“Ke balai engku datuk itu sutan. Kata beliau ada beberapa hal yang hendak dirundingkan oleh para datuk..” jawab isteri beliau Rangkayo Siti Rabi’ah.
Itulah engku, ada tiga tempat yang merujuk kepada kata “balai” ini, yaitu pakan atau pasar, tempat orang duduk-duduk bersantai, dan yang terakhir ialah Balai Adat tempat para penghulu berunding. Lalu kata balai pada nama Jorong Balai Panjang merujuk kemanakah engku dan encik sekalian?
Eloklah kiranya kita cermati curaian beberapa orang di kampung kita mengenai perkara ini. Curaian pertama berupa cerita orang-orang sambil duduk-duduk petang hari di lapau. Kata engku yang punya cerita bahwa “dahulu ketika penduduk di nagari kita mulai banyak, maka dibuatkanlah oleh orang bangku-bangku panjang dari batuang untuk tempat orang lelaki duduk-duduk. Maka kemudian dinamailah tempat itu dengan nama Balai Panjang..”
[caption id="attachment_1161" align="alignright" width="300"] Luak Anyia[/caption]
Adapun curaian kedua ialah “Bahwa pada masa dahulu balai negeri kita ada di sana. Bentuk balai negeri kita itu panjang dan berlainan dengan balai nagari yang ada di nagari lain. Sehingga orang-orang menamanakan tempat balai itu didirikan dengan nama Balai Panjang..”
Bagaimana menurut engku dan encik sekalian? Berat kemanakah pendapat engku dan encik sekalian?
Kalau dicari makna sebenar dari balai (apakah balai adat ataupun bangku-bangku) tersebut tentulah takkan bersua. Sebab kita tak pernah tahu berasal dari zaman berapakah cerita ini.
Kemudian apabila kita bercakap perihal Jorong Balai Panjang ini maka akan tersua oleh kita beberapa kampung seperti Kabun Alah, Koto Tangah, Kuruak Gadang, Luak Anyiak, Gunjo, Katapiang, dan Balai Panjang. Mungkin engku dan encik dapat menolong kami dalam hal mencari nama-nama kampung di Jorong Balai Panjang ini?
Jorong Balai Panjang berbatasan dengan Jorong Rumah Tinggi di sebelah utara, Jorong Nan Tujuah sebelah ke mudik (barat), Jorong Koto Kaciak di sebelah hilir (timur), sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Nagari Magek.
Begitulah engku dan encik sekalian, kalau silap mohonlah kami ditolong.
Komentar
Posting Komentar