Langsung ke konten utama

Pendakian Katapiang

[caption id="attachment_1488" align="alignleft" width="224"]Pendakian katapiang sebelum dicor Pendakian katapiang sebelum dicor[/caption]

Banyak orang sekarang bercakap perihal pembangunan di negeri ini, dan apabila mereka bercakap perkara demikian maka yang dimaksudkan dengan “pembangunan” itu ialah perubahan yang terjadi pada bidang fisik yang dapat ditangkap pandangan mata. Seperti contohnya bangunan usang yang diperbaiki atau dibongkar untuk digantikan dengan bangunan baru. Atau jalanan tanah yang diaspal atau dilapisi dengan semen (cor). Dapat juga bangunan baru dengan fungsi baru untuk kemasyarakatan, pemerintahan, ataupun perdagangan.

Bagi engku dan encik yang telah lama tak pulang kampung, tentulah akan sangat terkejut mendapati salah satu jalan di kampung kita yang terkenal akan keadaannya yang cepat rusak pada masa sekarang telah diperbaiki oleh orang. Jalan tersebut dikenal dengan keadaannya yang demikian buruknya sehingga orang-orang yang memiliki kendaraan acap merasa enggan untuk melaluinya.

Sebenarnya banyak kawasan jalan yang cepat rusak di kampung kita itu duhai engku dan encik sekalian. Namun eloklah disini kami kabarkan perihal jalan di pendakian Gunjo atau Katapiang yang telah diperbaiki oleh orang. Telah dicor duhai engku dan encik sekalian, tak ada lagi jalan buruk yang membuat kita cemas terjatuh apabila melauinya dengan onda ataupun kareta angin. Keadaan jalan tersebut pada masa sekarang ialah sangatlah mulusnya, apabila engku dan encik sekalian memacu kendaraan dengan lacunya maka kami yakin takkan terjatuh, kecuali engku dan encik kurang mahir dalam berkendaraan.

[caption id="attachment_1487" align="aligncenter" width="224"]Sebelum dicor Sebelum dicor[/caption]

[caption id="attachment_1471" align="aligncenter" width="225"]Sesudah dicor Sesudah dicor[/caption]

Namun kami sarankan agar engku dan encik sekalian jangalah sampai memacu kendaraan dengan laju yang kencang di jalan manapun di kampung kita. Kami cemas akan banyak orang yang dapat engku lantak (tabrak) terutama anak kecil. Kalau hanya engku dan encik saja yang celaka, taklah mengapa bagi kami, namun dalam hal ini ialah orang kampung kita yang hanya berjalan-jalan saja di jalanan kampung kita.

Menurut kabar yang kami dengar, pengecoran jalan ini merupakan atas usaha banyak pihak, termasuk di dalamnya dengan para perantau yang ikut dimintai sumbangan. Apabila engku dan encik berkata “Tak ada kami menyumbang tuanku..!”

Maka tiada dapat kami untuk menjawabnya, sebab kami hanya mendengar kabar saja dan bukan pula bagian dari panitia. Mungkin saja orang kampung kita tidak mengetahui alamat engku dan encik sekalian di rantau orang itu. Alangkah baiknya pada masa sekarang kita menghimpun data seluruh orang Kamang ini yang ada di rantau agar tidak payah mencarinya. Bukan dengan maksud untuk meminta sumbangan, akan tetapi dengan maksud untuk dapat mengetahui apabila ada kabar duka yang datang ataupun kemalangan yang engku dan encik dapat di rantau orang sana.

Kita tentulah sangat berharap agar jalan pada pendakian ini tidak lagi cepat rusak walau kami cemas akan tetap cepat rusak jua. Sebab sejauh yang kami ketahui, apabila jalan telah tergenang oleh air maka jalanan tersebut akan cepat rusak, atau ada batang kayu yang tumbuh di tepi jalan, dimana apabila hujan maka tetasan air pada daun dari batang kayu tersebut akan cepat membuat jalan rusak berlubang.

Terkenangkah engku dengan kisah yang kita dengar semasa mengaji di surau dahulu? Dimana kisah tersebut menceritakan seorang tua yang muncul tekad untuk menuntut ilmu setelah melihat batu yang keras berhasil dilubangi oleh tetesan air yang lembut?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

29. Tata Upacara Adat Minangkabau: Upacara Batagak Pangulu

UPACARA BATAGAK PANGULU Salah satu upacara atau alek ( ceremony ) adat Minangkabau yang paling sakral yang mendapatkan perhatian dan perlakukan khsus adalah Batagak Pangulu atau ada juga yang menyebutnya Batagak Gala .  Upacara ini merupakan peristiwa pentasbihan dan pengambilan atau pengucapan sumpah serta janji seorang Pangulu pada saat ia diangkat dan dinobatkan sebagai pemimpin kaum yang bergelar Datuak. Upacara adat ini sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana firman Allah mengingatkan: Sesungguhnyan orang-orang yang menukar janji ( nya dengan Allah ) dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit maka mereka itu tidak mendapat bahagian dari ( pahala ) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kahirat dan tidak ( pula ) akan menyucikan mereka. Bagi mereka adalah azab yang pedih (QS:3:77). Pada bagian lain Allah juga mengingatkan: “ Dan janganlah kamu mengikuti orang yang selalu bersumpah, lagi yang hina ” (QS 6...

Adat sopan santun orang Minangkabau

[caption id="" align="aligncenter" width="700"] Gambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia [/caption] Dalam suasana hari raya ini berkenankah engku, rangkayo, serta encik sekalian kami bawa melancong ke masa silam. Baru-baru ini kami mendapatkan sebuah kutipan pada sebuah buku dari tulisan seorang ahli perilaku (etiket) pada masa dahulunya di Minangkabau. Dikarang oleh B. Dt. Seri Maharajo dengan judul  Kitab 'Adat Sopan Santoen Orang Minangkabau  yang diterbitkan oleh Penerbit Merapi & Co  pada tahun 1922 di Bukit Tinggi. Kutipan tersebut memuat uraian pada halaman 75-80 sebagai berikut: 1. Apabila duduk bersama-sama tak boleh terkentut 2. Kalau menguap harus menutup mulut dengan tangan yang terkerucut 3. Apabila pergi ke jamban (untuk buang air besar) perlulah menutup kepala, memakai terompah, dan jangan terbuka aurat sebelum masuk jamban. Jangan bercakap-cakap, jangan pula menyahuti panggilan (seruan orang) melainkan dengan batuk kecil-keci...

23. Limbago Adat Minangkabau: Tigo Tungku Sajarangan

TIGO TUNGKU SAJARANGAN Dalam sistem adat Minangkabau, Tungku Tigo Sajarangan pada hakikatnya adalah wadah ( limbago ) permusyawaratan, bukan lembaga perwakilan. Unsur yang ada didalam limbago merupakan representasi semua masyarakat Minangkabau bukan mewakili kelompok-kelompok dan kepentingan tertentu. Limbago Tigo Tungku Sajarangan mengemban amanah dan membawa aspirasi, kepentingan dan misi masyarakat Minangkabau secara keseluruhan. Tigo Tungku Sajarangan adalah wadah ( limbago ) permuysrawatan masyarakat Miangkabau. Secara harfiah, “ tungku ” merujuk pada sebuah perkakas memasak tradisional, terbuat dari batu yang keras sebanyak tiga buah, yang diatur dengan posisi yang berbentuk segi tiga. Batu-batu ini harus berukuran sama sehingga bejana memasak (periuk atau kuali, atau yang lain) yang diletakkan di atasnya tidak miring. Di sela-sela tungku tersebut, kayu bakar disilang-silangkan sehingga udara untuk kebutuhan menyalakan api dapat bersirkulasi secara sempurna— dima kayu basilang, ...