Langsung ke konten utama

Monografi Nagari Kamang 1980_39

[caption id="" align="alignright" width="271"] Ilustrasi Gambar: Disini[/caption]

Adat Mambubua


Apabila pihak isteri telah berbadan dua, maka pada usia kandungan 3 atau 4 bulan diadakan adat mambubua (yang dimaksud bubua, adukan beras, kelapa, dan labu), kemudian dihantarkan ke rumah mertua, karib-kerabat dan orang kampung sebagai pemberitahuan bahwa anak syah yang dikandung dari pasangan suami istri itu.


Kemudian oleh mertua dan karib terdekat diadakan pula pembalasan pembuburan itu dan disuruh jemput oleh menantu. Bubua yang dijemput tidak hanya ke rumah mertua saja melainkan ke rumah kerabat suami yang lainnya. Pada masa dahulu hal ini dilakukan oleh si isteri yang mengandung dengan cara berjalan kaki. Hikmah dari ritual adat mambubua ini ialah mengajari si anak semenjak dari dalam kandungan perihal hidup badunsanak, berkarib-kerabat, atau singkat kata dalam bahasa orang sekarang mendidik jiwa sosialnya.


Hikmah pada diri si ibu ada pula, dimana semasa mengandung si ibu mesti banyak-banyak bergerak agar mudah melahirkan. Betapa kita dengar pada masa dahulu yang masih sederhana kehidupan masyarakatnya, tingkat kematian ibu dan bayi sangat tinggi. Maka dengan banyak bergerak (orang sekarang kata olah raga) maka Insya Allah si ibu akan lebih mudah ketika melahirkan kelak.


Makna lainnya ialah mempererat hubungan silaturahim antara dua keluarga ini. Karena dengan saling menjalang ini ikatan bathin antara kedua keluarga akan semakin mengental. Semasa bertandang, para ibu-ibu akan saling menanyakan kabar dan bersenda gurau dengan sesama mereka.


Menurut orang tuo-tuo zaman doeloe ibu laki-laki/ mertua perempuanlaH yang duluan membuburkan menantunya, kini sebaliknya. Namun adat ini masih dipakai oleh dunsanak kita di Patah Mudiak yakni Jorong Koto Panjang, Dangau Baru, dan Dalam Koto.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

29. Tata Upacara Adat Minangkabau: Upacara Batagak Pangulu

UPACARA BATAGAK PANGULU Salah satu upacara atau alek ( ceremony ) adat Minangkabau yang paling sakral yang mendapatkan perhatian dan perlakukan khsus adalah Batagak Pangulu atau ada juga yang menyebutnya Batagak Gala .  Upacara ini merupakan peristiwa pentasbihan dan pengambilan atau pengucapan sumpah serta janji seorang Pangulu pada saat ia diangkat dan dinobatkan sebagai pemimpin kaum yang bergelar Datuak. Upacara adat ini sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana firman Allah mengingatkan: Sesungguhnyan orang-orang yang menukar janji ( nya dengan Allah ) dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit maka mereka itu tidak mendapat bahagian dari ( pahala ) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kahirat dan tidak ( pula ) akan menyucikan mereka. Bagi mereka adalah azab yang pedih (QS:3:77). Pada bagian lain Allah juga mengingatkan: “ Dan janganlah kamu mengikuti orang yang selalu bersumpah, lagi yang hina ” (QS 6...

Adat sopan santun orang Minangkabau

[caption id="" align="aligncenter" width="700"] Gambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia [/caption] Dalam suasana hari raya ini berkenankah engku, rangkayo, serta encik sekalian kami bawa melancong ke masa silam. Baru-baru ini kami mendapatkan sebuah kutipan pada sebuah buku dari tulisan seorang ahli perilaku (etiket) pada masa dahulunya di Minangkabau. Dikarang oleh B. Dt. Seri Maharajo dengan judul  Kitab 'Adat Sopan Santoen Orang Minangkabau  yang diterbitkan oleh Penerbit Merapi & Co  pada tahun 1922 di Bukit Tinggi. Kutipan tersebut memuat uraian pada halaman 75-80 sebagai berikut: 1. Apabila duduk bersama-sama tak boleh terkentut 2. Kalau menguap harus menutup mulut dengan tangan yang terkerucut 3. Apabila pergi ke jamban (untuk buang air besar) perlulah menutup kepala, memakai terompah, dan jangan terbuka aurat sebelum masuk jamban. Jangan bercakap-cakap, jangan pula menyahuti panggilan (seruan orang) melainkan dengan batuk kecil-keci...

23. Limbago Adat Minangkabau: Tigo Tungku Sajarangan

TIGO TUNGKU SAJARANGAN Dalam sistem adat Minangkabau, Tungku Tigo Sajarangan pada hakikatnya adalah wadah ( limbago ) permusyawaratan, bukan lembaga perwakilan. Unsur yang ada didalam limbago merupakan representasi semua masyarakat Minangkabau bukan mewakili kelompok-kelompok dan kepentingan tertentu. Limbago Tigo Tungku Sajarangan mengemban amanah dan membawa aspirasi, kepentingan dan misi masyarakat Minangkabau secara keseluruhan. Tigo Tungku Sajarangan adalah wadah ( limbago ) permuysrawatan masyarakat Miangkabau. Secara harfiah, “ tungku ” merujuk pada sebuah perkakas memasak tradisional, terbuat dari batu yang keras sebanyak tiga buah, yang diatur dengan posisi yang berbentuk segi tiga. Batu-batu ini harus berukuran sama sehingga bejana memasak (periuk atau kuali, atau yang lain) yang diletakkan di atasnya tidak miring. Di sela-sela tungku tersebut, kayu bakar disilang-silangkan sehingga udara untuk kebutuhan menyalakan api dapat bersirkulasi secara sempurna— dima kayu basilang, ...