Langsung ke konten utama

Monografi Nagari Kamang 1980_41

[caption id="" align="alignleft" width="640"] Ilustrasi Gambar: Disini[/caption]

Mengantar Anak Karumah Bako

Pada usia anak lebih kurang setahun, sekira-kira dia telah pandai berdiri istilahnya tegak terhanyak, maka oleh bakonya dilakukan pemanggilan kepada Ibu/Famili si anak.


Tata caranya ialah dengan membawa 1 (satu) sukat beras, ibu mertua pergi ke rumah menantu guna menyuruh antar cucu kerumah bakonya. Cara pemanggilan ini pun badaun cabiak, balapiak basah[1] di rumah menantu yang akan disuruh mengantar cucu ke rumah bakonya itu.


Pada suatu hari yang ditentukan sekira 4 orang, seorang tukang gendong/dukung anak, pembawa jamba, pengepit ayam, ibu sianak dan seorang anak perempuan dengan mengepit seekor ayam jantan terpilih dihantarkanlah anak tadi ke rumah bakonya. Setelah selesai minum makan dengan segenap acaranya, kemudian si anak kembali dibawa ke rumah ibunya.


Dari pihak bako, anak/cucu tadi dilepas dengan beras 1 sukat, uang, ayam betina dan bahkan dnegan seekor kambing betina.


Adat Sunnat Rasul


Pada anak usia 6-7 tahun diadat nan basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, maka pada setiap anak lelaki wajib sunat rasul. Pada hari yang ditentukan diadakan acara sunat rasul dan kemudian diikuti dengan kenduri, sampai-sampai memotong kambing, dan memotong jawi bagi yang berkesanggupan.


Cara-cara pelaksanaan adat sunnat Rasul dan perhelatannya pada pokoknya hampir sama adat-adat perhelatan lainnya, semuanya dengan dimusyawarahkan lebih dahulu si ayah dan mamaknya menurut sepanjang adat.


____________________________________________


Catatan Kaki:


[1] Badaun cabiak-balapiak basah maksudnya ialah dengan cara beradat atau istilah orang sekarang “Secara Resmi”. Bukan sekadar bertandang biasa bukan pula sekadar memanggil (maimbau) biasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

29. Tata Upacara Adat Minangkabau: Upacara Batagak Pangulu

UPACARA BATAGAK PANGULU Salah satu upacara atau alek ( ceremony ) adat Minangkabau yang paling sakral yang mendapatkan perhatian dan perlakukan khsus adalah Batagak Pangulu atau ada juga yang menyebutnya Batagak Gala .  Upacara ini merupakan peristiwa pentasbihan dan pengambilan atau pengucapan sumpah serta janji seorang Pangulu pada saat ia diangkat dan dinobatkan sebagai pemimpin kaum yang bergelar Datuak. Upacara adat ini sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana firman Allah mengingatkan: Sesungguhnyan orang-orang yang menukar janji ( nya dengan Allah ) dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit maka mereka itu tidak mendapat bahagian dari ( pahala ) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kahirat dan tidak ( pula ) akan menyucikan mereka. Bagi mereka adalah azab yang pedih (QS:3:77). Pada bagian lain Allah juga mengingatkan: “ Dan janganlah kamu mengikuti orang yang selalu bersumpah, lagi yang hina ” (QS 6...

Adat sopan santun orang Minangkabau

[caption id="" align="aligncenter" width="700"] Gambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia [/caption] Dalam suasana hari raya ini berkenankah engku, rangkayo, serta encik sekalian kami bawa melancong ke masa silam. Baru-baru ini kami mendapatkan sebuah kutipan pada sebuah buku dari tulisan seorang ahli perilaku (etiket) pada masa dahulunya di Minangkabau. Dikarang oleh B. Dt. Seri Maharajo dengan judul  Kitab 'Adat Sopan Santoen Orang Minangkabau  yang diterbitkan oleh Penerbit Merapi & Co  pada tahun 1922 di Bukit Tinggi. Kutipan tersebut memuat uraian pada halaman 75-80 sebagai berikut: 1. Apabila duduk bersama-sama tak boleh terkentut 2. Kalau menguap harus menutup mulut dengan tangan yang terkerucut 3. Apabila pergi ke jamban (untuk buang air besar) perlulah menutup kepala, memakai terompah, dan jangan terbuka aurat sebelum masuk jamban. Jangan bercakap-cakap, jangan pula menyahuti panggilan (seruan orang) melainkan dengan batuk kecil-keci...

23. Limbago Adat Minangkabau: Tigo Tungku Sajarangan

TIGO TUNGKU SAJARANGAN Dalam sistem adat Minangkabau, Tungku Tigo Sajarangan pada hakikatnya adalah wadah ( limbago ) permusyawaratan, bukan lembaga perwakilan. Unsur yang ada didalam limbago merupakan representasi semua masyarakat Minangkabau bukan mewakili kelompok-kelompok dan kepentingan tertentu. Limbago Tigo Tungku Sajarangan mengemban amanah dan membawa aspirasi, kepentingan dan misi masyarakat Minangkabau secara keseluruhan. Tigo Tungku Sajarangan adalah wadah ( limbago ) permuysrawatan masyarakat Miangkabau. Secara harfiah, “ tungku ” merujuk pada sebuah perkakas memasak tradisional, terbuat dari batu yang keras sebanyak tiga buah, yang diatur dengan posisi yang berbentuk segi tiga. Batu-batu ini harus berukuran sama sehingga bejana memasak (periuk atau kuali, atau yang lain) yang diletakkan di atasnya tidak miring. Di sela-sela tungku tersebut, kayu bakar disilang-silangkan sehingga udara untuk kebutuhan menyalakan api dapat bersirkulasi secara sempurna— dima kayu basilang, ...