Langsung ke konten utama

Monografi Nagari Kamang 1980_43

[caption id="" align="alignleft" width="620"] Ilustrasi Gambar: Disini[/caption]

Adat Istiadat Manjanguak/ Melihat Orang Sakit


Yang diwajibkan menurut adat melihat/manjanguak orang sakit, adalah dipihak mertua apabila melihat menantunya sakit (serta ahli keluarga dan kaum kerabatnya yang lain apabila sakit) ialah dengan pembawaan nasi selengkapnya serta berbagai makanan yang kira-kira disukai oleh si sakit. Begitu pula sebaliknya, pihak istri melihat mertua sakit (serta ahli keluarga dan kaum kerabatnya yang lain apabila sakit) ialah dengan membawa pembawaan yang sama dengan yang dibawa oleh pihak mertua di atas.


Begitu pula apabila pergi menjanguak ke rumah bako suami bagi isteri, ataupun ke rumah bako istri bagi suami. Dikenal juga dengan istilah rusuah bapujuak, sakik basilau.[1] Tidak ketinggalan melihat saudara satu ayah pihak suami dan pihak isteri.


Adat Istiadat Manjalang Tukang


Adat istiadat Manjalang Tukang ini suatu kebiasaan yang tidak dibiarkan, tidak dapat diabaikan pula seperti halnya adat istiadat lainnya. Pelaksana dan pelaku dari adat istiadat manjalang tukang ini terjadi antara anak dengan bapak, antara ipar dengan bisan, seperti: Kalau si anak/ istri membangun sebuah rumah, sekira-kira rumah yang dibangun itu telah dapat ditempati dan atau siap 80-90%, maka pihak kaum bapak (bako) datang Manjalang Tukang namanya dengan pembawaan :




  1. Ayam singgang

  2. Nasi selengkapnya (selain ayam singgang ditambah dengan lauk-pauknya)

  3. Makanan-makanan 2 jamba

  4. Uang pada zaman Belanda f. 1,- gulden sekarang sekitar Rp. 2.000,- s/d Rp. 3.000,-[2]


Uang mengantar manjalang tukang ini, bukan perempuan saja, malah diikuti oleh tungganai rumah/ mamak nan tuo atau Penghulu, (dari si alek), oleh si pangka atau si anak/ istri yang membangun rumah juga menanti dengan bukan perempuan saja, juga lelaki sebagaimana halnya dengan fihak yang datang (si alek).


Sesudah selesai minum dan makan maka diketengahkan oleh si alek maksud kedatangannya dan menyerahkan uang yang dibawanya.


Menurut lazimnya penyerahan uang itu, tidak diterima seluruhnya oleh si pangka dimana seperdua dikembalikan dengan istilah sambah lalu salam kembali.


Uang diserahkan oleh si alek, ialah akan ganti Ijuak nan sadanciang, kaganti tali nan sauleh.


Terjadinya sambah lalu salam kumbali itu perbuatan orang tuo-tuo, sabab tali jannyo putuih, kalo-kalo jannyo lapuak antara anak dan bapak, antar ipar dengan bisan.


Demikian pula halnya kalau di pihak ayah, atau bako yang memperbuat rumah, maka kewajiban menjalang tukang bagi si anak/ istri berlaku pula seperti yang disebutkan di atas.


___________________________________________________


Catatan Kaki:


[1] Terjemahan bebasnya kira-kira, rusuh dibujuk-sakit ditengok.


[2] Nilai uang pada masa 1980

Komentar

Postingan populer dari blog ini

29. Tata Upacara Adat Minangkabau: Upacara Batagak Pangulu

UPACARA BATAGAK PANGULU Salah satu upacara atau alek ( ceremony ) adat Minangkabau yang paling sakral yang mendapatkan perhatian dan perlakukan khsus adalah Batagak Pangulu atau ada juga yang menyebutnya Batagak Gala .  Upacara ini merupakan peristiwa pentasbihan dan pengambilan atau pengucapan sumpah serta janji seorang Pangulu pada saat ia diangkat dan dinobatkan sebagai pemimpin kaum yang bergelar Datuak. Upacara adat ini sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana firman Allah mengingatkan: Sesungguhnyan orang-orang yang menukar janji ( nya dengan Allah ) dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit maka mereka itu tidak mendapat bahagian dari ( pahala ) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kahirat dan tidak ( pula ) akan menyucikan mereka. Bagi mereka adalah azab yang pedih (QS:3:77). Pada bagian lain Allah juga mengingatkan: “ Dan janganlah kamu mengikuti orang yang selalu bersumpah, lagi yang hina ” (QS 6...

Adat sopan santun orang Minangkabau

[caption id="" align="aligncenter" width="700"] Gambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia [/caption] Dalam suasana hari raya ini berkenankah engku, rangkayo, serta encik sekalian kami bawa melancong ke masa silam. Baru-baru ini kami mendapatkan sebuah kutipan pada sebuah buku dari tulisan seorang ahli perilaku (etiket) pada masa dahulunya di Minangkabau. Dikarang oleh B. Dt. Seri Maharajo dengan judul  Kitab 'Adat Sopan Santoen Orang Minangkabau  yang diterbitkan oleh Penerbit Merapi & Co  pada tahun 1922 di Bukit Tinggi. Kutipan tersebut memuat uraian pada halaman 75-80 sebagai berikut: 1. Apabila duduk bersama-sama tak boleh terkentut 2. Kalau menguap harus menutup mulut dengan tangan yang terkerucut 3. Apabila pergi ke jamban (untuk buang air besar) perlulah menutup kepala, memakai terompah, dan jangan terbuka aurat sebelum masuk jamban. Jangan bercakap-cakap, jangan pula menyahuti panggilan (seruan orang) melainkan dengan batuk kecil-keci...

23. Limbago Adat Minangkabau: Tigo Tungku Sajarangan

TIGO TUNGKU SAJARANGAN Dalam sistem adat Minangkabau, Tungku Tigo Sajarangan pada hakikatnya adalah wadah ( limbago ) permusyawaratan, bukan lembaga perwakilan. Unsur yang ada didalam limbago merupakan representasi semua masyarakat Minangkabau bukan mewakili kelompok-kelompok dan kepentingan tertentu. Limbago Tigo Tungku Sajarangan mengemban amanah dan membawa aspirasi, kepentingan dan misi masyarakat Minangkabau secara keseluruhan. Tigo Tungku Sajarangan adalah wadah ( limbago ) permuysrawatan masyarakat Miangkabau. Secara harfiah, “ tungku ” merujuk pada sebuah perkakas memasak tradisional, terbuat dari batu yang keras sebanyak tiga buah, yang diatur dengan posisi yang berbentuk segi tiga. Batu-batu ini harus berukuran sama sehingga bejana memasak (periuk atau kuali, atau yang lain) yang diletakkan di atasnya tidak miring. Di sela-sela tungku tersebut, kayu bakar disilang-silangkan sehingga udara untuk kebutuhan menyalakan api dapat bersirkulasi secara sempurna— dima kayu basilang, ...