Langsung ke konten utama

Postingan

Selamat berpuasa 1439 H

[caption id="" align="aligncenter" width="1365"] Gambar: http://www.thejakartapost.com [/caption] Dahulu semasa kanak-kanak masih teringat oleh kami tatkala dibawa-bawa bersilaturahmi ke rumah karib-kerabat dan handai-taulan menjelang orang berpuasa. Kata orang dahulu "Pai balimau..". Terkenang oleh kami perihal balimau , bermakna membersihkan diri menjelang orang puasa baik itu zahir maupun bathin. Adapun halnya dengan zahir maka dibersihkan dengan cara mandi degan air yang telah diberi  limau [1] nan biasanya bersama dengan  bunga rampai . Kata orang  limau ialah pembersih paling bagus terutama untuk  daki-daki yang telah  berkarak  di badan. Makanya banyak iklan pembersih peralatan dapur memakai limau dalam ramuannya.

Yang Dipertua Agong Muhammadiyah Malaya

[caption id="" align="aligncenter" width="242"] Gambar: https://niadilova.wordpress.com [/caption] [caption id="" align="aligncenter" width="367"] Gambar: https://niadilova.wordpress.com [/caption] [caption id="" align="aligncenter" width="418"] Gambar: https://niadilova.wordpress.com [/caption]

Negeri nan hampir tergadai

[caption id="" align="aligncenter" width="3088"] Gambar: Lukisan Kamal Guci [/caption] Maota-ota  dengan orang sekampung[1] memanglah dapat menjadi pengobat rindu dengan kampung halaman. Demikianlah nan berlaku pada kami, seorang engku yang merasa dekat dengan beberap orang pembuat kebijakan di Luhak Agam itupun berkisah bahwa pada zaman sekarang adat itu tiada perlu lagi karena negeri kita ini sudah banyak dihuni oleh orang asing. "Dari di Bukik Tinggi usah ditanya sudah banyak tanahnya dimiliki oleh bukan orang Kurai demikian pula tanah-tanah di sekitar Bukik Tinggi itu semacam Gadut, Kubang Putiah, Ampek Angkek, Biaro, hingga ke Baso telah banyak nan dibeli oleh bukan anak nagari." demikian kisahnya. "Benar engku, namun nan membeli kebanyakankan masih orang Minangkabau jua.." jawab kami

1 Muharam 1439 Hijriyah

[caption id="" align="aligncenter" width="1920"] Picture: https://publicholidays-ae.akamaized.net [/caption] Tahukah engku? Kalau pergantian hari dalam Islam berlaku tatkala waktu magrib masuk. Jadi semenjak senja hari Rabu tanggal 20 September 2017 kemarin kita sudah memasuki 1 Muharam 1439 H.

Rumah Gadang

[caption id="" align="aligncenter" width="1500"] Gambar: https://2.bp.blogspot.com/ [/caption] Waktu memahat tunggak tua rumah untuk perempun itu, melainkan perempuan itulah yang mengaduduki tunggak tua itu, dan kepadanyalah tukang tua minta’ izin waktu mula mencatak, artinya mula memahat tunggak tua itu; karena perempuan itulah yang punya tunggak tua itu, sedang tonggak yang lain-lain, melainkan jadi tonggak turutan saja kepada tonggak tua itu, artinya tonggak tua itulah yang rumah dan siapa yang punya tonggak tua itulah yang punya rumah; dan walaupun laki-laki yang menebang kayunya  atau yang membelinya; melainkan kedar menolong saja, maksudnya melainkan untuk perempuan juga; demikianlah pepanjang adat kita Alam Minangkabau, perempuanlah yang punya rumah, bukanlah sekali-kali laki-laki; dan anak perempuan atau binilah yang dibuatkan rumah; karena mereka itulah yang dimaksud dari bermula hendak membuat rumah, kecuali surau, lepau, kedai, atau toko tempat...

Di tangan perempuan

[caption id="" align="aligncenter" width="477"] Gambar: http://www.langitperempuan.com[/caption] Tak salah orang menjulukinya Bundo Kanduang dari Alam Minang.. Pikirannya tertuju kepada kaum ibu yang akan melahirkan pemuda harapan bangsa. Kaum Ibu yang hendak melahirkan manusia yang dikehendaki Illahi itu harus dibina sedemikian rupa hingga generasi yang dilahirkannya pasti sanggup memikul beban KHALIFAH di muka bumi ini. Usaha paling berat tapi harus dilaksanakan. Itupun kalau kita meyakini bahwa hidup ziarah sebentar ke dunia ini benar-benar untuk menyelamatkan keluarga, menyelamatkan suku, menyelamatkan pulau, menyelamatkan bangsa dan atau untuk menyelamatkan dunia ini. Karenanya pandangan utama harus ditujukan ke.. RUMAH TANGGA. [Leon Salim. Rahma el Yunusiyah Satria Wanita dari Alam Minang” dalam Hajjah Rahmah el Yunusiyah dan Zainudin Labay el Yunusy: Dua Bersaudara Tokoh Pembaharu Sistem Pendidikan di Indonesia. Ed. Aminudin Rasyad (Jakarta: Pengur...

Gelar tinggal Gelar..

[caption id="attachment_2578" align="aligncenter" width="500"] Mencontoh ke nan elok[/caption] Kaciak banamo, gadang bagala.. Sudah menjadi kelaziman pada masa sekarang di nagari kita dalam keseharian orang saling menyebut nama dalam bertukar sapa. Hal tersebut sudah menjadi sesuatu yang biasa dan justeru terasa janggal apabila ada yang menyebut gelar, terutama bagi lelaki muda yang baru berumah tangga. Kami tiada pula faham kenapa dapat serupa itu, pernah mendengar seorang lelaki muda yang baru tak berapa lama berumah tangga berkata "Sebut nama sajalah engku, jauh kita rasanya kalau dipanggil kami dengan gelar.."